Manajemen Sarana Prasarana di SMA Tahfidz dan TMI Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan Sumenep Madura

A. Latar belakang
Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan suatu pola interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau yang biasa dikenal dengan guru. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang dipahami sebelumnya, dapat melakukan atau menggunakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat digunakannya termasuk sikap tertentu yang mereka miliki. Sebaliknya seorang guru yang dikatakan telah mengajar apabila dia telah membantu siswa untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.
Untuk pencapaian tujuan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah berupaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Upaya tersebut berupa pemberdayaan seluruh komponen yang dibutuhkan dalam pendidikan. Misalnya pembangunan sarana prasarna, pembuatan sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.
Sarana dan prasarana yang lengkap merupakan syarat untuk kemajuan pendidikan di suatu sekolah. Suryosubroto (2010: 52) mengatakan sarana dan prasarana pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan pendidikan karena akan menyangkut pemenuhan prasyarat pendidikan yang memadai. Seperti diketahui bersama bahwa sarana dan prasarana yang memadai tanpa dikelolah oleh sumber daya manusia yang handal dan berkualitas niscaya sarana dan prasarana tersebut tidak akan membawa kemajuan yang berarti dan bahkan hilang ditelan waktu. Sagala (2007: 219) mengatakan seringkali dijumpai pemeliharaan atau pengelolaan sarana prasarana dan perlengkapan di sekolah tidak berjalan baik. Inventarisasi perlengkapan,
Sarana merupakan alat yang langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, sedangkan prasarana merupakan alat yang secara tidak langsung juga membentu tercapainya tujuan pendidikan melalui terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Sarana dan prasarana ini sangat membatu dalam mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Dengan adanya sarana dan prasarana sekolah yang baik maka peserta didik akan bisa mendapatkan fadilitas yang baik dalam proses belajar mengajar baik itu secara langsung maupun tidak.
Untuk menghasilkan sarana prasarana yang baik maka peru adanya pengelolaan yang baik pula. Dalam hal ini manajemen sarana prasarana sangat dibutuhkan. Pada dasarnya manajemen sarana prasarana merupakan salah satu bidang kajian manajemen sekolah atau adaministasi pendidikan dan sekaligus menjadi tugas pokok kepala sekolah. Manajemen sarana prasana pendidikan merupakan suatu kegiatan pendayagunaan barang atau alat yang secara langsung maupun tidak langsung digunakan dengan tujuan untuk tercapainya tujuan pendidikan yang ada secara efektif dan efisien.
Manajemen sarana prasarana meliputi perencaraan, pengorganisasian, pengerahan, dan pengawasan sarana prasarana. Dalam komponen manajeme sarana prasaran tersebut terdapat beberapa subkomponen lagi yang tidak kalah penting, yaitu pengadaan, pemeliharaan, penghapusan serta monitoring dan evaluasi sarana prasarna. Subkomponen pendidikan ini sangat penting karena dengan adanya sub komponen tersebut ini maka sarana prasarana penddikan akan semakin efektif dan efisien dalam penggunaannya yang secara integral akan turut serta dalam menunjang suksesnya kegiatan pembelajaran serta tercapainya tujuan pendidikan.
Dengan melihat uraian diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian terkait dengan pengadaan, pemeliharaan, penghapusan serta monitoring dan evaluasi sarana prasarna di SMA Tahfidz dan TMI Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan Sumenep Madura.

B. Fokus pengamatan
1. Profil Podok Pesantren Al-Amin Preduan
2. Pengadaan Sarana Prasarana
3. Pemeliharaan Sarana Prasarana
4. Penghapusan Sarana Prasarana
5. Monitoring dan Evaluasi Sarana Prasarana

C. Temuan pengamatan
1. Profil Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah (TMI)
Sejarah Singkat
Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah (TMI) adalah lembaga pendidikan tingkat menengah yang paling tua di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN. TMI—dengan bentuknya yang sangat sederhana—telah dirintis pendiriannya sejak pertengahan tahun 1959 oleh Kiai Djauhari Chotib (pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan). Selama kurang lebih 10 tahun, Kiai Djauhari mengasuh lembaga ini di lokasi Pondok Tegal sampai beliau wafat pada bulan Juli 1970.
Setelah Kiai Djauhari wafat, usaha rintisan awal ini pun dilanjutkan oleh putra-putra dan santri-santrinya antara lain dengan melakukan langkah-langkah pendahuluan sebagai berikut: Pertama, membuka lokasi baru seluas kurang lebih 6 ha, amal jariyah dari santri-santri Kiai Djauhari, yang terletak 2 km di sebelah bara lokasi lama. Kedua, membentuk “tim kecil” yang beranggotakan 3 orang (yaitu Kiai Muhammad Tidjani Djauhari, Kiai Muhammad Idris Jauhari, dan Kiai Jamaluddin Kafie), untuk menyusun kurikulum TMI yang lebih representatif. Ketiga, mengadakan “studi banding” ke Pondok Modern Gontor dan pesantren-pesantren besar lainnya di Jawa Timur, sekaligus memohon doa restu kepada kiai-kiai sepuh pada saat itu, khususnya Kiai Ahmad Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi Gontor, untuk memulai usaha pendirian dan pengembangan TMI dengan sistem dan paradigma baru yang telah disepakati.
Setelah melewati proses pendahuluan tersebut, maka pada hari Jum’at, tanggal 10 Syawal 1391 atau 3 Desember 1971, TMI (khusus putra) dengan sistem dan bentuknya seperti yang ada sekarang secara resmi didirikan oleh Kiai Muhammad Idris Jauhari, dengan menempati bangunan darurat milik penduduk sekitar lokasi baru. Dan tanggal inilah kemudian yang ditetapkan sebagai tanggal berdirinya TMI AL-AMIEN PRENDUAN.
Sedangkan TMI (khusus putri) atau yang lebih dikenal dengan nama Tarbiyatul Mu’allimaat al-Islamiyah (TMaI) dibuka secara resmi 14 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 10 Syawal 1405 atau 19 Juni 1985, oleh Nyai Anisah Fatimah Zarkasyi, putri Kiai Zarkasyi dan istri (alm) Kiai Tidjani Djauhari.
Visi dan Misi Lembaga
Visi TMI AL-AMIEN PRENDUAN semata-mata untuk ibadah kepada Allah swt., dan mengharap ridlo-Nya (sebagaimana tercermin dalam sikap tawadlu’, tunduk dan patuh kepada Allah swt., dalam seluruh aspek kehidupan). Mengimplementasikan fungsi Khalifah Allah di muka bumi (sebagaimana tercermin dalam sikap proaktif, inovatif, kreatif dan produktif).
Sedangkan misinya adalah mempersiapkan individu-individu yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya umat terbaik yang pernah dikeluarkan untuk manusia (khairo ummah). Sebagai misi khususnya adalah mempersiapkan kader-kader ulama dan pemimpin umat (mundzirul qoum) yang muttafaqih fid dien; yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan dakwah ilal khair, ‘amar ma’ruf nahi munkar dan indzarul qoum.
Jenjang Pendidikan dan Masa Studi
TMI adalah lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang berarti setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, atau dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU). Ada dua program pendidikan yang ditawarkan TMI, yaitu:
o Program reguler (kelas biasa), untuk tamatan SD/MI dengan masa belajar 6 tahun.
o Program intensif, untuk tamatan SMP/MTs dengan masa belajar 4 tahun.
Selain kedua program tersebut, juga dibuka program Kelas Persiapan atau Syu’bah Takmiliyah, bagi mereka yang tidak lulus dalam ujian masuk atau tidak memenuhi syarat-syarat minimal untuk duduk di kelas satu. Kelas persiapan ini memiliki dua jenis program: Syu’bah Tamhidiyah bagi tamatan SD/MI, dan Syu’bah I’dadiyah bagi tamatan SMP/MTs.
Materi dan Komponen Pendidikan
Secara garis besar, materi atau subyek pendidikan di TMI Al-AMIEN PRENDUAN meliputi 7 (tujuh) jenis pendidikan, yaitu:
Pendidikan keimanan (aqidah dan syariah).
Pendidikan kepribadian dan budi pekerti (akhlak karimah)
Pendidikan kebangsaan, kewarganegaraan dan HAM.
Pendidikan keilmuan (intelektualitas).
Pendidikan kesenian dan keterampilan vokasional (kestram).
Pendidikan olahraga, kesehatan dan lingkungan (orkesling).
Pendidikan kepesantrenan (ma’hadiyat).
Ketujuh jenis pendidikan tersebut dijabarkan dalam bentuk beberapa Bidang Edukasi (BE—bukan Bidang Studi) yang diprogram sesuai dengan kelas atau tingkat pendidikan yang ada dengan alokasi waktu yang fleksibel. Kemudian sesuai dengan target kompetensi yang harus dikuasai oleh santri, maka Bidang Edukasi tersebut dikelompokkan menjadi 2 kelompok kompetensi yaitu Kompetensi Dasar (Komdas) dan Kompetensi Pilihan (Kompil).
Kompetensi Dasar (Komdas) adalah kompetensi-kompetensi dasar umum yang harus dikuasai oleh seluruh santri, tanpa kecuali, sesuai dengan target yang telah ditetapkan pada kelas-kelas tertentu. Komdas ini meliputi 2 kelompok Bidang Edukasi, yaitu Komdas A dan Komdas B. Komdas A meliputi Ulum Tanziliyah ‘Studi Islam’ (Al-Qur’an wa Ulumuhu, Al-Hadits wa Siroh Nabawiyah, Ilmu Tauhid wal Akhlaq, dan Ilmu Fiqh wa Ushuluhu), Ulum Wathoniyah ‘Kurikulum Nasional’ (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Matematika dan Logika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Inggris), Ulum Ma’hadiyah ‘Kurikulum Kepesantrenan’ (Bahasa dan Sastra Arab, Ilmu-ilmu Pendidikan dan Keguruan, Dasar-dasar Riset dan Jurnalistik).
Sedangkan Komdas B, mencakup 5 Bidang Edukasi, yaitu Pendidikan Kepesantrenan, Pendidikan Kepanduan dan Kebangsaan, Pendidikan Olahraga, Kesehatan dan Lingkungan, Pendidikan Kesenian dan Keterampilan Vokasional, dan Pendidikan Khusus Kewanitaan.
Kompetensi Pilihan (Kompil) adalah kompetensi-kompetensi khusus yang harus dikuasai oleh santri-santri tertentu, sesuai dengan bakat, minat, kecenderungan, dan pilihannya masing-masing. Kompil ini meliputi 2 kelompok Bidang Edukasi, yaitu Kompil A mencakup 4 jenis pilihan, yaitu ‘Ulum Tanziliyah dan Bahasa Arab, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/Sains, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Inggris, Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sedangkan Kompil B, mencakup 8 jenis pilihan, yaitu Saka-saka dan Resus-resus Pramuka, Klub-klub Penelitian dan Pengkajian Ilmiah, Bahasa, Olahraga, Kesenian, Palang Merah Remaja (PMR), Pecinta Alam dan Lingkungan serta kursus-kursus keterampilan dan kejuruan.
Pengakuan Ijazah
Sejak tahun 1982, ijazah TMI AL-AMIEN PRENDUAN telah memperoleh pengakuan persamaan (mu’adalah) dengan sekolah-sekolah menengah atas, di negara-negara Islam di Timur Tengah, antara lain :
Dari Al-Jami’ah al-Islamiyah Madinah al-Munawwaroh, dengan SK No. 58/402 tertanggal 17/8/1402 (tahun 1982).
Dari Jami’ah Malik Abdil Aziz (Jami’ah Ummil Quro) Makkah al-Mukarromah, dengan SK No. 42 tertanggal 1/5/1402. (tahun 1982).
Dari Jami’ah Al-Azhar Cairo, dengan SK No. 42 tertanggal 25/3/1997.
Dari International Islamic University Islamabad, Pakistan dengan surat resmi tertanggal 11 Juli 1988.
Dari Universitas Az-Zaytoun Tunisia, dengan surat resmi tertanggal 21 Maret 1994.
Sedangkan di dalam negeri, ijazah TMI AL-AMIEN PRENDUAN telah mendapat pengakuan dari berbagai lembaga, baik negeri maupun swasta, antara lain :
Dari Pimpinan Pondok Modern Gontor (diakui setara dan sederajat dengan KMI Gontor) dengan SK No. 121/PM-A/III/1413, tertanggal 25 September 1992
Dari Departemen Agama RI. (diakui setara dan sederajat dengan MTsN dan MAN), dengan SK Dirjen Binbaga No. E.IV/PP.032/KEP/80/98, tertanggal 9 Desember 1998.
Dari Departemen Pendidikan Nasional RI. (diakui setara dan sederajat dengan SMUN), dengan SK. Menteri Pendidikan Nasional No. 106/0/2000, tertanggal 29 Juni 2000.
Struktur
Pengasuh Ma’had: KH. Moh. Zainullah Rois, Lc; Direktur: K. Drs. Suyono Khatthab; Sekretaris Umum: Ust. Ainurrahman Abbasi, S.H.I, Ust. Moh. Khuza’i, S.Fil.I ’06; Tata Warkat: Ust. Ade M. Suhendar ’10; Operator SAS: Ust. Luthfi Andi Z, S.Pd.I ’08; Pusdarmen: Ust. Ghufron Junaidi ’10; Bendahara Umum: Ust. Ach. Rasul, S.Kom; Kasir: Ust. Romliyanto, S.Sos.I ’08; TMI Press: Ust. Ach. Faishol Buzairi ’08, Ust. Widiyanto ‘12; Manager FC: Ust. Eko Agus Tyo Utomo ’11; Koord. Sarana: Ust. Moh. Hamdi ’10; Koord. Akademik: Ust. Nurhasan Wahyudi, Lc., Ust. Endang Suhendar, S.Th.I ’09; PO. Lajnah Nihaiyah: Ust. H. Fahmi Fattah, S.Sos.I
2. Pengadaan Sarana Prasarana
Pengadaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan semua jenis sarana dan prasarana pendidikan persekolahan yang sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks persekolahan, pengadaan merupakan segala kegiatan yang dilakukan dengan cara menyediakan semua keperluan barang atau jasa berdasarkan hasil perencanaan dengan maksud untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Pengadaan sarana dan prasarana merupakan fungsi operasional pertama dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan. Fungsi ini pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Aktivitas pertama dalam manjemen sarana prasarana pendidikan adalah pengadaan sarana prasarana pendidikan. Pengadaan perlengkapan pendidikan biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pendidikan di suatu sekolah menggantikan barang-barang yang rusak, hilang, di hapuskan, atau sebab-sebab lain yang dapat di pertanggung jawabkan sehingga memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang setiap tahun dan anggaran mendatang. Pengadaan perlengkapan pendidikan seharusnya di rencanakan dengan hati-hati sehingga semua pengadaan perlengkapan sekolah itu selalu sesuai dengan pemenuhan kebutuhan di sekolah.
Mengenai hasil observasi yang dilakukan kelompok kami tentang pengamatan pengadaan sarana prasarana sudah cukup baik. Terbukti dengan adanya berbagai macam fasilitas yang disediakan pondok pesantren tersebut mulai dari tempat untuk belajar, dapur umum, asrama, fasilitas rumah bagi pengajar, dan lain sebagainya.
Dengan luas tanah kurang lebih sekitar 25 hektar pengurus pondok pesantren tersebut mampu membangun sarana prasarana yang dibutuhkan bagi proses belajar di pondok pesantren Al-Amien. Mengenai buku, alat, maupun perabotan sudah terpenuhi dengan baik, Al-Amin juga menyediakan perpustakaan dan internet agar para santri tidak ketinggalan dengan kemajuan IPTEK . Di pondok pesantren ini, juga diadakan sekolah, tidak hanya berfokus pada mengajinya saja melainkan pendidikan formal juga diajarkan disana.
Untuk tempat tinggal para santri atau asrama juga sudah dibangun sesuai dengan kapasitas para santrinya. Pondok pesantren ini selalu menyediakan fasilitas-fasilitas yang cukup memadai gunanya adalah untuk kenyamanan para santri. di sini terdapat gazebo yang dapat digunakan para santri untuk mengerjakan tugas kelompok, kumpul bareng teman-temannya maupun untuk sekedar santai dan membaca buku.
Dari semua pembangunan-pembangunan sarana prasarana di pondok pesantren sumber dananya berasal dari sumbangan orang tua para santri maupun dari pemerintah, namun dana tersebut masih belum cukup untuk proses operasional pondok maka dari itu ketua yayasan harus lebih pintar dalam proses pengelolaan dana agar dalam pembangunan fasilitas seperti tambahan asrama maupun perbaikan gedung tidak terbengkalai.
Mengenai pembelian alat-alat seperti meja, kursi, papan tulis dan lain sebagainya juga sudah direncanakan sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada peralatan yang tidak digunakan dengan sia-sia. untuk peralatan yang rusak pondok pesantren selalu menggantinya dengan yang baru agar tidak mengganggu proses belajar para santri.
3. Pemeliharaan Sarana Prasarana
Perawatan atau pemeliharaan adalah suatu usaha yang dilakukan dalam rangka meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan fasilitas dalam kondisi yang baik dan tetap berfungsi.
Pemeliharaan peralatan dan fasilitas sekolah yang lainnya memang perlu dilakukan oleh setiap sekolah. Fasilitas yang selalu terawat dengan baik akan membuat pekerjaan berjalan dengan lebih lancar. Pekerjaan yang berjalan tanpa adanya kendala dibidang peralatan atau fasilitas lain tersebut akan mengefektifkan pekerjaan dalam upaya mencapai tujuan sekolah.
Banyak kasus terjadi di beberapa sekolah yang mendapat bantuan proyek pengadaan fasilitas pendidikan misalnya:
a. Peralatan rusak sebelum dipakai, karena sekolah tidak mempunyai tenaga ahli yang dapat mengoperasikan alat baru tersebut, sehingga alat yang baru itu dibiarkan kena debu, lembab dan akhirnya rusak.
b. Peralatan laboratorium cepat rusak, karena banyak guru tidak mahir menggunakannya dan siswa sering coba-coba, sementara tenaga laboran tidak memiliki kemampuan merawatnya.
c. Sekolah tidak mengalokasikan dana perawatan yang cukup, karena memang tidak ada program yang lengkap.
d. Kamar mandi/WC kantor pimpinan sekolah selalu mendapat perawatan rutin setiap hari dan bahkan diberi bahan pengharum padahal pemakainya hanya 1 atau 2 orang, sementara kamar mandi/WC siswa dengan jumlah pemakai banyak jarang dibersihkan, sehingga ada sekolah yang kamar mandi/WC untuk siswa kotor berbau, bahkan kran bocor dibiarkan sampai berbulan-bulan dan tidak sedikit sekolah yang hanya mempunyai sumber air yang terbatas sehingga siswa sering tidak menyiram bekas buang air mereka. Tidak jelas siapa yang harus memeriksa, kepada siapa dilaporkan, kapan diganti, tersediakah cadangan kran di sekolah, dan sebagainya.

Manajemen Perawatan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Berbagai usaha dilakukan oleh pengelola Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan untuk dapat memiliki sarana dan prasarana sekolah tersebut baik melalui bantuan pemerintah, maupun dari sumbangan masyarakat dan orang tua siswa. Dengan sarana dan prasarana yang bertambah lengkap tersebut pengelola sekolah berharap dapat memanfaatkannya secara optimal untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar. Pada akhirnya diharapkan mutu belajar siswa dapat meningkat.

Sumber Daya Sistem Perawatan
Sumber daya yang diperlukan dalam sistem perawatan atau pemeliharaan sarana dan prasarana Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan adalah tenaga perawatan, (dapat melibatkan semua unsur sekolah), biaya perawatan, bahan perawatan, peralatan perawatan, cara perawatan, dan waktu perawatan.
a. Tenaga Perawat (Man)
Untuk melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, perlu dipikirkan siapa yang harus dilibatkan, apa saja diskripsi tugasnya, kompetensi apa yang perlu dikuasai, dan bagaimana beban kerjanya. Dalam pemeliharaan sarana dan prasarana Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan secara terencana dapat melibatkan semua unsur sekolah, meliputi :
o Kepala Sekolah; selaku penanggung jawab dan pengambil kebijakan sistem pemeliharaan sarana dan fasilitas di sekolah yang dipimpinnya
o Wakil kepala sekolah; mengkoordinir mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi sistem pemeliharaan.
o Kepala Tata usaha, bersama Wakil Kepala Sekolah mengkoordinir dan mengadministrasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi sistem pemeliharaan.
o Guru BP; membantu Wakil Kepala Sekolah dalam koordinasi pengerahan dan memotivasi siswa untuk pelaksanaan pemeliharaan fasilitas umum di sekolah seperti: halaman dan taman, kamar mandi, WC, ruang kelas.
o Guru; membimbing siswa dalam pelaksanaan pemeliharaan fasilitas di ruang kelas maupun di laboratorium.
o Karyawan umum bagian tata usaha; melaksanakan perawatan sarana dan fasilitas kerjanya masing-masing pada batas-batas pekerjaan yang dapat dilakukan, misanya; menjaga, meyimpan, membersihkan, ataupun memelihara dengan baik. Demikian halnya tenaga perawat khusus gedung atau bangunan, tenaga perawat khusus listerik atau penerangan, dan sebagainya.
o Tenaga laboran dan tenaga perawat atau tenaga kebersihan sekolah; melaksanakan pekerjaan pemeliharaan sarana dan fasilitas sekolah sesuai bidang keahlian atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Misalnya, seorang laboran fisika mempunyai tugas merawat peralatan laboratorium. Fisika meliputi pekerjaan menjaga, menyimpan, membersihkan, memelihara, memeriksa, menyetel kembali, bahkan apabila perlu dan dibutuhkan diharapkan dapat melakukan penggantian dan perbaikan komponen peralatan yang rusak.
o Siswa; perlu dilibatkan dalam pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah sekaligus untuk mendidik dan membina rasa tangung jawab. Siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan membersihkan halaman sekolah, ruang kelas dan meja kursi belajar dari kotoran dan coretan-coretan, kamar mandi, WC, mushola sekolah, dan sebagainya yang dapat dilaksanakan misalnya melalui gerakan ”jum’at bersih”. Juga dalam kegiatan pemeliharaan, pembersihan dan penyimpanan kembali fasilitas atau peralatan yang dipakai untuk pembelajaran di kelas maupun di laboratorium. Setiap siswa yang menimba ilmu di Pondok Pesantern Al-Amin Preduan Sumenep mendapatkan giliran untuk membersihkan pondok pesantren.
o Teknisi ahli dari luar sekolah; dalam pekerjaan pemeliharaan untuk mengganti atau memperbaiki sarana atau fasilitas pada tingkat kerusakan yang perbaikannya memerlukan kemampuan teknik professional dan berteknologi tinggi, seperti; komputer, peralatan optik, konstruksi bangunan yang rumit, diperlukan tenaga ahli dari luar sekolah.

b. Biaya Pemeliharaan (Money)
Pemeliharaan membutuhkan biaya, bahkan kadang-kadang biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan pemeliharaan sangat mahal. Biaya pemeliharaan dibutuhkan untuk berbagi hal, antara lain:
o Biaya pembelian bahan-bahan untuk pemeliharaan, seperti sabun, carbol, kain lap, cat, bahan pengawet, pencegah jamur, dan sebagainya. – Biaya pembelian suku cadang seperti; kran air, engsel daun pintu, lensa optik, mouse komputer dll.
o Biaya pembelian peralatan pemeliharaan, seperti: sapu, sikat, sulak, kuas, solder, tang, obeng, cangkul, sabit, dan sebagainya.
o Upah tenaga pemeliharaan jika perlu, khususnya apabila pekerjaan pemeliharaan terpaksa harus mengundang pihak luar, misalnya ahli komputer.
Biaya pemeliharaan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan di atas perlu dianggarkan dan digali dari berbagai sumber, misalnya dari dana rutin subsidi pemerintah, sumbangan masyarakat melalui BP3, swadaya siswa, dan lainnya sehinga tersedia dana (uang) sebagai salah satu sumber daya untuk mendukung program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
c. Bahan Pemeliharaan (Materials)
Yang dimaksud bahan pemeliharaan adalah seluruh jenis bahan yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. Bahan untuk pekerjaan pemeliharaan ini harus tersedia dengan jumlah yang memadai, karena bahan ini merupakan salah satu sumber daya yang sangat urgen untuk merawat semua sarana dan prasarana sekolah. Bahan yang dibutuhkan untuk pekerjaan pemeliharaan sarana dan prasarana Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, antara lain:
o Bahan untuk pekerjaan kebersihan, seperti: sabun, carbol, kain lap, thinner, bahan pembersih alat-alat laboratorium, dan bahan pembersih lainnya
o Bahan untuk pemeliharaan, seperti: bahan pengawet, cat, minyak pelumas, bahan pemeliharaan bangunan (paku, cat, tembok, politur), bahan isolasi listrik, bahan pembasmi serangga, bahan pemeliharaan buku perpustakaan, bahan pemadam kebakaran, bahan pelindung peralatan kantor dan laboratorium (agar terhindar dari debu, sinar matahari, panas, pupuk tanaman taman sekolah, dan lainnya.
o Suku cadang, seperti: kran air, engsel-engsel pintu dan jendela, alat-alat pengunci pintu dan jendela, sekring, suku cadang alat-alat kantor dan laboratorium.

d. Peralatan Pemeliharaan (Machines)
Tersedianya alat-alat pemeliharaan merupakan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Apabila sekolah memiliki peralatan pemeliharaan sekolah yang lengkap akan sangat mendukung terlaksananya program pemeliharaan sarana dan prasarana. Peralatan–peralatan tersebut, tergantung dari jenis sarana atau fasilitas yang dirawat serta jenis kegiatan pemeliharaannya. Peralatan pemeliharaan yang sifanya umum, sederhana, dan secara rutin atau sering dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan sarana dan perasarana sebaiknya dimiliki oleh sekolah. Misalnya untuk pemeliharaan kebersihan ruang kantor, kelas, dan kamar mandi/WC memerlukan peralatan sapu, pengepel lantai, dan sikat. Untuk perbaikan dan mengganti kran air memerlukan kunci pipa. Untuk pencegahan terjadinya kebakaran yang fatal memerlukan alat pemadam kebakaran.
e. Cara Pemeliharaan (Methods)
Cara atau metode yang dipilih untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan sarana dan fasilitas Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang dapat dilakukan antara lain dengan cara:
o Melakukan pencegahan, misalnya memberi peringatan, peraturan, dan tata tertib bagi penggunaan fasilitas sekolah (slogan).
o Menyimpan, misalnya menyimpan peralatan laboratorium atau bahan praktikum agar terhindar dari kerusakan.
o Membersihkan, agar sarana atau fasilitas bersih dari kotoran yang dapat merusak, misalnya debu dan uap air yang dapat menyebabkan terjadinya korosi.
o Memelihara, misalnya dengan memberi pelumas pada peralatan mekanis, melapisi atau mengecat kembali.
o Memeriksa atau mengecek kondisi, sarana dan fasilitas atau peralatan untuk mengetahui kondisi dari kemungkinan adanya gejala rusak.
o Menyetel kembali ( tune-up ), agar fasilitas atau peralatan memiliki kinerja tetap normal mendekati standar.
o Mengganti komponen-komponen yang rusak seperti: engsel pintu alat-alat pengunci, kran air, lensa mikroskop, dan sebagainya.
o Memperbaiki, kerusakan ringan yang terjadi pada sarana dan fasilitas sekolah pada batas-batas tertentu yang dapat dilakukan perbaikan sendiri.
Pemilihan cara atau metode pemeliharaan yang tepat akan sangat membantu pencapaian target program pemeliharaan secara efektif dan efisien di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
f. Waktu Pemeliharaan (Minutes)
Waktu sebagai modal atau sumber daya untuk pelaksanaan program pemeliharaan sarana dan prasarana Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dalam hal ini dilihat dari tersedianya kesempatan atau waktu bagi unsur atau orang yang dilibatkan dalam pemanpaatan kesempatan tersebut secara efektif dan efisen untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan. Sedangkan dari sisi obyek yang di lakukan pekerjaan pemeliharaan ditetapkan dengan jadwal yang disusun:
o Berdasarkan pengalaman yang lalu dalam suatu jenis pekerjaan yang sama diperoleh informasi mengenai selang waktu atau frekuensi untuk melakukan pemeliharaan seminimal dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko kerusakan pada fasilitas yang bersangkutan. Dalam hal orang-orang yang telah berpengalaman akan banyak memiliki informasi untuk bembantu menysun jadwal pemeliharaan.
o Berdasarkan sifat operasi dari peralatan dan fasilitas yang dapat menimbulkan kerusakan setelah fasilitas dipakai dalam selang waktu tertentu. Misalnya ruang kelas , atau WC yang tiap hari dipakai oleh banyak siswa akan cepat kotor dan rusak, sehingga pekerjaan pemeliharaan membersihkan ruang kelas dan WC perlu dijadwalkan setiap hari. Demikian halnya dengan peralatan laboratorium jenis tertentu yang jumlahnya sedikit namun dipakai oleh banyak siswa setiap hari akan cepat berubah ketelitiannya (keakuratannya) atau bahkan rusak.
o Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat fasilitas atau peralatan dimiliki sekolah. Adakalanya peralatan laboratorium yang baru dibeli disertai dengan buku manual yang memuat petunjuk operasi serta jadwal pemeliharaan peralatan yang bersangkutan. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai acuan dalam merencanakan jadwal pemeliharaan.

4. Penghapusan Sarana Prasarana
Penghapusan sarana dan prasarana merupakan kegiatan pembebasan sarana dan prasarana dari pertanggungjawaban yang berlaku dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara lebihoperasional penghapusan sarana dan prasarana adalah proses kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan/ menghilangkan sarana dan prasarana dari daftar inventaris, karena sarana dan prasarana tersebut sudah dianggap tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan terutama untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Penghapusan sarana prasarana yang ada di Al-Amin. Setelah peneliti melakukan pengamatan di yayasan al amin, pengurus yayasan mengatakan bahwa penghapusan sarana prasarana kebanyakan dilakukan karena sarana prasarana tersebut sudah tidak dapat dipakai dan diperbaiki kembali. Sehingga pengurus pondok melaporkan kepada kepala yayasan bahwa sarana prasarana tersebut perlu dimusnahkan dan dihapus dari buku inventaris agar tidak mengotori lingkungan pondok. Hal tersebut dilakukan karena mengurangi biaya untuk perbaikan selain itu untuk membersihkan lingkungan pondok dari sarana prasarana yang tidak berguna lagi.
Tidak ada aturan-aturan khusus dari yayasan untuk penghapusan sarana prasarana pondok. Hanya saja untuk penhapusan sarana prasarana, pengurus pondok harus melaporkan kepada kepala yayasan dan diserta bukti bahwa sarana prasarana tersebut sudah tidak layak pakai. Dengan begitu kepala yayasan mengetahui dan dapat melakukan pengadaan sarana prasarana itu kembali.

5. Monitoring dan Evaluasi Sarana Prasarana
a. Monitoring Sarana Parasarana
Bentuk pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan sarana prasarana sangat dibutuhkan tahapan untuk melakukan monitoring, kegiatan ini merupakan kegiatan terpenting untuk melihat sarana prasarana yang tersedia dan proses yang dilakukan didalamnya. Kegiatan monitoring sendiri merupakan suatu bentuk kegiatan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana kegiatan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin.
Sedangkan menurut Peratuan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006, disebutkan bahwa monitoring merupakan suatu kegiatan mangamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu dengan tujuan agar semua data masukan atau tindakan selanjutnya yang diperlukan. Dengan melihat pengertian yang ada bahwa proses monitoring sangat dibutuhkan dalam suatu bentuk kegiatan, hal ini dapat untuk memperkecil dampak-dampak negatif yang akan ditimbulkan nantinya.
Pondok pesanteren yang ada di daerah Madura ini memiliki banyak kegiatan atau progran yang dilakukan, tidak terlepas dari kegiatan mengenai pengadaan suatu sarana prasarana yang ada pada pondok pesantren ini guna untuk mendukung setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan tentunya melibatkan banyak pihak-pihak yang berwenang didalamnya, di pondok pesantren ini sendiri telah ada atau dibentuk suatu wakil-wakil dari kepala pondok pesantren. Wakil sarana parasaran juga telah ada di pondok pesantren ini sehingga dalam pengadaan setiap sarana prasarana yang dibutuhkan telah dilakukan secara baik dan sesuai dengan persetujuan bersama dalam proses pengambilakn keputusan yang dilakukan.
Kegiatan monitoring sendiri merupakan kegiatan suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya sesuai dengan rencana, perintah, tujuan atau kebijaksanaan yang telah ditentukan. Kegiatan monitoring yang dilakukan Pondok pesantren Al- Amin Pasundan yaitu dilakukan sesuai dengan yang diatur. Setelah kegiatan yang direncanakan dapat dijalankan proses monitoring juga dijalankan dengan baik. Kegiatan monitoring ini dilakukan dapat berupa penggidentifikasian data-data yang ada dalam kegiatan untuk dilihat sudah terperinci atau belum serta dilakukan monitoring secara observasi secara langsung kelapangan dengan melihat langsung hal-hal yang terjadi didalamnya. Apabila kegiatan yang dilakukan mengenai pengadaan sarana prasarana maka proses monitoring yang dilakukan yaitu dengan melihat benar atau tidak pengadaan yang dilakukan sesuai dengan perincian dan sistematika yang berlaku.
Proses pemonitoringan sendiri dapat dilakukan untuk mengetahui kegiatan mengenai pendanaan, program yang dilakukan, kesesuaian dengan kebutuhan yang diperlukan serta hal-hal yang dapat mendukung dan menghambat proses yang dilakukan. Pondok pesantren Al-amin Pasundan sendiri memiliki sistem monitoring yang baik seperti memberikan kebebasan secara penuh bagi para anggotanya untuk meihat kegiatan yang dilakukan dan sistem yang dilakukan sangat transparan atau terbuka.
a. Evaluasi Sarana Prasarana
Kegiatan evaluasi merupakan suatu kegiatan terakhir yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kebenaran atau melihat kembali kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan evaluasi ini sangat penting bagi suatu kegiatan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kegiatan dengan harapan yang diinginkan. Evaluasi sendiri memiliki pengertian yaitu suatu kegiatan yang manilai hasil yang diperoleh selama kegiatan pemantauan berlangsung, lebih dari hal tersebut evaluasi juga menilai hasil atau produk yang telah dihasilkan dari suatu rangkaian program sebagai dasar mangambil keputusan tentang tingkat keberhasilanyang telah dicapai dan tindakan selanjutnya yang diperlukan.
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan terakhir yang dilakukan untuk melihat program yang dilakukan sesuai dengan harapan atau tidak. Kegiatan evaluasi ini sangat dibutuhkan untuk melakukan suatu bentuk perbaikan sekarang ataupun perbaikan pada kegiatan yang dilakukan selanjutnya. Kegiatan evaluasi sendiri memiliki pengertian yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan penilaian akan hasil dari program atau kegiatan yang telah dilakukan dalam organisasi. Kegiatan evaluasi ini juga penting saat sebuah sekolah melakukan suatu pengadaan mengenai sarana prasarana yang dilakukan dalam penyediaan kebutuhan yang diperlukan sekolah tersebut guna untuk mendukung proses pembelajaran yang dilakukan.
Kegiatan evalusi bukan hal mudah untuk dilakukan, termasuk kegiatan evaluasi yang dilakukan di pondok pesantren Al-amin Pasundan ini. Di pondok pesantren ini kegiatan evaluasi dilakukan secara seksama guna untuk melihat seberapa jauh tingkat keberhasilan dalam setiap kegiatan sarana prasarana sekolah. Kegiatan evaluasi yang dilakukan pondok pesantren disini guna untuk meningkatkan kualitas yang ada di pondok pesantren Al-amin Pasundan yaitu mengenai sarana prasarana yang ada disini.
Kegiatan evaluasi ini dimaksudkan guna pemimpin mampu melihat seberapa jauh pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana yang ada di pondok pesantren Al-amin ini. Karena dengan peran aktif pemimpin proses pencapaian tujuan demi kemajuan sekolah dapat dilaksanakan dengan baik dan akan terasa mudah karena banyak pihak yang ikut mengembangkan sekolah tersebut.
Dalam proses evaluasi ini pihak pemimpin melihat susunan dalam proses pengadaan sarana prasarana yang ada dalam pondok pesantren. Hal ini menjadi sangat penting karena jika terdapat kesalahan dalam proses penyusunan dalam proses pengadaan sarana prasarana maka kegiatan akan mengalami kesalahan secara beruntun. Serta dalam sistem pengadaan sarana prasarana perlu melibatkan pihak-pihak yang benar-benar dibutuhkan dalam setiap susunanya.

D. Saran
1. Meningkatkan manajemen sarana prasarana mulai dari pengadaan, pemeliharaan, penghapusan, monitoring dan evaluasi sarana prasarana yang sudah ada.
2. Melihat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dalam mengelolah pendidikan khususnya menegenai manajemen sarana prasarana.

E. Daftar rujukan
Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta:Bumiaksara.
http://al-amien.ac.id/lembaga-pendidikan-2/tarbiyatul-muallimien-al-islamiyah/http://ms-marizadenia.blogspot.com/2012/01/manajemen-pemeliharaansarana-dan.html
http://www.pusdikkowad.mil.id/index.php/index.php?option=com_content&view=article&id=499:penjelasan- dan pusdikkowad-tentang-evaluasi-latihan-antar kecabangan&cadit=1:berita-terkini&itemid=37.
http://www.google.com?hl=in&gl=id&dient=msandroid=samsung&source=androidunknown&g=penjelasan+mengenai+monitoring+sarana+prasarana.
http://larasatidian.files.wordpress.com/2011/06/sarana.pdf
http://julianelf.wordpress.com/2012/07/21/inventarisasidanpenghapusan-sarana-dan-prasarana-sekolah. Inventarisasi DanPenghapusan Sarana Dan Prasarana Sekolah. di unduh 1 januari 2013 pukul 19:54 WIB

Sagala, Syaiful. 2007. Manajemen Stategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan; Pembuka Ruang Kreatifitas. Inovasi dan Pemberdayaan Potensi Sekolah dalam Sistem Otonomi Sekolah. Jakarta: Alfabeta.
Suryosubroto. 2010. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

F. Lampiran

Gambar 1 : Masjid Pondok Pesantren Al-Amin Preduan Sumenep Madura

Gambar 2 : Auditorium Putra

Gambar 3 : Tempat penerimaan tamu

Gambar 4 : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amin

Gambar 5 : TMI Putri

Gamabr 6 : Marhalah Tsanawiyah

Gambar 7 : Gersena Pondok Pesantren Al-Amin

Gamabr 8 : Marhalah Aliyah

Gambar 9 : Pondok Putri

Gambar 10 : Tempat tinggal ustadz Pondok pesantren Al-Amin

Posted in Manajemen Sarana Prasarana | Leave a comment

Penataan sarana dan prasarana pendidikan di Surabaya Cambridge School

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan, pengetahuan, dan etika. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia.
Di Indonesia, kata pendidikan tak terpisahkan dengan suatu tempat yang bernama sekolah. Sekolah merupakan sebuah sistem, tepatnya sebuah sistem pendidikan.Sebagai sebuah sistem pendidikan, Sekolah memiliki program kegiatan pembelajaran.Dalam kegaitan pembelajaran terdapat banyak hal yang harus disiapkan.Salah satunya adalah sarana dan prasarana pendidikan.
Keberadaan sarana dan prasarana di sekolah harus dikelola atau diadministrasikan dengan sebaik-baiknya, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai. Tanpa dikelola dan diadministrasikan dengan sebaik-baiknya, maka keberadaan sarana dan prasarana yang dimiiliki Sekolah tidak akan banyak bermanfaat bagi pencapaian tujuan pendidikan.
Dalam proses manajemen sarana prasarana yang dimulai dengan perencanaan sampai dengan pengawasan maka terdapat satu sub didalam proses tersebut yang tidak kalah pentingnya yaitu kegiatan penataan sarana dan prasarana pendidikan. Penataan sarana prasarana pendidikan khususnya di sekolah sanagta penting karena dengan adanya kegiatan penataan ini maka sarana prasarana penddikan akan semakin efektif dan efisien dalam penggunaannya yang secara integral akan turut serta dalam menunjang suksesnya kegiatan pembelajaran serta tercapainya tujuan pendidikan.
Untuk itu penulis ingin melakukan penelitian terkait penataan sarana prasarana di Surabaya Cambridge School serta usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasaran di Surabaya Cambridge School. Alasan penulis memilih Surabaya Cambridge School sebagai lokasi penelitian adalah sekolah ini adalah sekolah berkurikulum Internasional sehingga diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi stakeholder pendidikan yang ingin mengembangkan serta meningkatkan penataan sarana dan prasarana pendidikan.

B. FOKUS PENGAMATAN
1. Penataan sarana dan prasarana pendidikan di Surabaya Cambridge School.
2. Usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School.

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui penataan sarana dan prasarana pendidikan di Surabaya Cambridge School.
2. Untuk mengetahui Usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasaran di Surabaya Cambridge School.

D. MANFAAT PENGAMATAN
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan kajian dalam upaya untuk mendalami manajemen pendidikan di suatu lembaga pendidikan khususnya mengenai penataan sarana dan prasarana sehingga dapat menunjang terciptanya suasana yang kondusi dalam proses pembelajaran. Dari penelitian di Surabaya Cambridge School diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan rujukan utnuk sekolah-sekolah lain yang ingin melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas khususnya di bidang sarana dan prasana.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Surabaya Cambridge School
Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi terhadap program-program yang dilakukan untuk meningkatkan mutu sarana dan prasarana Surabaya Cambridge School khususnya dalam hal penataan sehingga bisa dijadikan salah satu pertimbangan untuk meningkatkan mutu sarana prasarana sekolah melalui program-program selanjutnya yang lebih baik.
b. Bagi sekolah sederajat
Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan atau perbandingan mengenai sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School terhadap sekolah-sekolah lain yang sederajat.

c. Bagi kepala sekolah
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi mengenai usaha-usaha yang selama ini dilakukan dalam bidang sarana dan prasarana. Dengan demikian, kepala sekolah dapat melakukan pengembangan atau usaha-usaha perbaikan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana Surabaya Cambridge School.

d. Bagi guru
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan motivasi guru dalam memelihara sarana dan prasarana yang ada di Surabaya Cambridge School.

e. Bagi Peneliti lain
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi tambahan atau bahan rujukan dan pembanding bagi peneliti lain yang masalah penelitiannya sejenis.

E. DEFINISI ISTILAH
1. Pengertian dari penataan adalah suatu proses atau aktivitas penyusunan sesuatu agar terlihat rapi dan dapat digunakan secara efektif dan efisien.
2. Pengertian dari sarana pendidikan adalah seluruh perabot atau alat-alat yang digunakan secara langsung dalam proses pembelajaran.
3. Pengertian dari prasarana pendidikan adalah seluruh perabot baik berupa alat maupun ruang atau gedung yang tidak digunakan secara langsung tetapi sangat menunjang proses pembelajaran.
3. Pengertian dari penataan sarana dan prasarana pendidikan adalah suatu aktivitas penyusunan seluruh sarana dan prasarana baik berupa ruang, bangunan, maupun perabot yang disesuaikan dengan luas sekolah agar dapat digunakan secara efektif dan efisien. 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. PENATAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Menurut Dian dalam (http://dian75.wordpress.com/2010/08/05/arti-dan-ruang-lingkup-pengelolaan-sarana-dan-prasarana-pendidikan/), sarana dan prasarana merupakan sumber utama yang memerlukan penataan sehingga fungsional, aman dan atrktif unutk keperluan proses-proses belajar di sekolah. Secara fisik sarana dan prasarana harus menjamin adanya kondisi yang higienik dan secara psikologis dapat menimbulkan minat belajar, hampir dari separuh waktunya siswa-siswa bekerja, belajar dan bermain di sekolah, karena itu lingkungan sekolah (sarana dan prasarana) harus aman, sehat, dan menimbulkan presefsi positif bagi siswa-siswanya.
Lingkungan yang demikian dapat menimbulkan rasa bangga dan rasa memiliki siswa terhadap sekolahnya.Hal ini memungkinkan apabila sarana dan prasarana itu fungsional bagi kepentingan pendidikan. Dalam hal ini guru sangat berkepentingan untuk memperlihatkan unjuk kerjanya dan menjadikan lingkungan sekolah sebgai asset dalam proses belajar mengajar.
Beberapa teknis yang berkenaan dengan bagaimana menata sarana dan prasarana pendidikan:
1. Tata Ruang dan Bangunan Sekolah
Dalam mengatur ruang yang dibangun bagi suatu lembaga pendidikan/sekolah, hendaknya dipertimbangkan hubungan antara satu ruang dengan ruang yang lainnya. Hubungan antara ruang-ruang yang dibutuhkan dengan pengaturan letaknya tergantung kepada kurikulum yang berlaku dan tentu saja ini akan memberikan pengaruh terhadap penyusunan jadwal pelajaran.
2. Penataan Perabot Sekolah
Tata perabot sekolah mencakup pengaturan barang-barang yang dipergunakan oleh sekolah, sehingga menimbulkan kesan kontribusi yang baik pada kegiatan pendidikan.Dalam mengatur perabot sekolah hendaknya diperhatikan macam dan bentuk perabot itu sendiri. Apakah perabot tunggal atau ganda, individual atau klasikal, hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan perabot sekolah antara lain:
a. Perbandingan antara luas lantai dan ukuran perabot yang akan dipakai dalam ruangan tersebut
b. Kelonggaran jarak dan dinding kiri-kanan
c. Jarak satu perabot dengan perabot lainnya
d. Jarak deret perabot (meja-kursi) terdepan dengan papan tulis
e. Jarak deret perabot (meja-kursi) paling belakang dengan tembok batas
f. Arah menghadapnya perabot
g. Kesesuaian dan keseimbangan
h. Penataan perlengkapan Sekolah

Jadi, jika disimpulkan penataan perlengkapan sekolah mencakup perlengkapan di ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, dan kelas, ruang BP, ruang perpustakaan dan sebagainya. Ruang-ruang tersebut perlengkapannya perlu ditata sedemekian rupa sehingga menimbulkan kesan yang baik kepada penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan menimbulkan perasaan dan betah pada guru yang mengajar dan siswa yang sedang belajar.

B. IMPLEMENTASI PENATAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Menurut Bafadal (2004:43-48) salah satu implementasi dari penataan sarana dan prasarana pendidikan adalah penataan di ruang kantor dan perpustakaan sekolah.
1. Penataan Ruang Kantor Sekolah
Tata ruang kantor sekolah dapat didefinisikan sebagai aktivitas penyusunan semua perabot, peralatan, dan bahan pada luas lantai kantor sekolah. Tujuannya untuk menjadikan kantor sekolah yang siap pakai bagi kepala sekolah dan atau pegawai tata usaha sekolah. Secara rinci tujuan tata ruang kantor sekolah adalah sebagai berikut :
a. Untuk mempermudah arus ketatausahaan sekolah.
b. Untuk memberikan kondisi kerja yang baik bagi setiap personel sekola, terutama pegawai tata usaha sekolah.
c. Untuk mempermudah arus berkomunikasi antar pegawai tat usaha dan antara pegawai tata usaha dan personel lainnya.
d. Untuk menyediakan layanan ketatusahaan sekolah yang baik bagi semua personel sekolah.
e. Untuk menghindarkan diri dari kemungkinan saling mengganggu antara pekerjaan yang satu dengan pekerjaan lainnya.

Tata ruang kantor sekolah yang baik sangat menunjang kelancaran proses pendidikan. Dengan tat ruang kantor yang biak, semua personel sekolah mendapatkan pelayanan ketatausahaan yang maksimal, mencegah terjadinya penghamburan tenaga dan waktu para pegawai tata usaha sekolah, dan memungkinkan pemakaian ruang kantor sekolah yang efiisien. Dengan demikian, penataan ruang kantir sekolah merupakan satu aktivitas penting dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah dan harus direnccanakan dengan sebaik-baiknya.
Perencanaan tata ruang kantor sekolah hendaknya merupakan perencanaan yang integratif. Artinya, di dalam proses perencanaannya ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah pekerjaan ketatausahaan sekolah yang harus dilakukan, proses kerja yang harus dilakukan, proses kerja yang harus digunakan, perlengkapan yang digunakan, ruang-ruang yang telah dipersiapkan, lingkungan fisik ventilasi, dan personel sekolah yang akan dilayani.
Dalam hubungannya dengan tata ruang kantor sekolah, ada sejumlah prinsip tata ruang kantor yang harus diperhatikan, antara lain :
a. Suatu tata ruang kantor yang baik adalah tata ruang yang memungkinkan semua personel tata usaha dapat menempuh jarak yang sependek-pendeknya dalam menyelesaikan pekerjaan ketatausahaannya.
b. Bagian-bagian kantor sekolah yang memiliki tugas atau fungsi yang sama dan saling berkaitan hendaknya ditempatkan secara berdekatan.
c. Tata ruang yang ideal pada dasarnya adalah tata ruang yang menempatkan para personel dan alat-alatnya berdasarkan alur proses kerjanya.
d. Kantor yang baik adalah kantor yang memiliki cukup ventilasi. Oleh karena itu, meja dan perabot lainnya harus diatur sedmikian rupa, sehingga setiap bagian kantor sekolah mendapatkan cahaya dan pertukaran udara yang cukup.
e. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memanfaatkan ruang semaksimal mungkin. Karena itu, suatu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang menggunakan seluruh ruang yang ada, baik ruang lantai maupun dindingnya.
f. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang dapat dengan mudah disusun kembali bila diperlukan.
g. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memisahkan pekerjaan yang berbunyi keras dan mengganggu pekerjaan lainnya.

Ada dua macam tata ruang kantor sekolah, yaitu (1) tata ruang terbuka, dan (2) tata ruang terpisah-pisah. Dengan tata ruang terbuka berarti semua aktivitas, perabot, dan bahan-bahan ketatausahaan kantor sekolah ditempatkan dalam satu ruang. Tata ruang yang demikian itutepat sekali ditempuh apabila ruang kantor sekolah sangat luas dan dibuatkan pemisah buatan, misalnya, dengan sekosel kayu atau dinding kaca. Sedangkan tata ruang terpisah-pisah adalah tata ruang yang peralatan, perabotan, dan bahan-bahanya dikelompokan, dan masing-masing kelompok ditempatkan di ruang tersendiri.
Adapun bentuk tata ruang yang akan digunakan, yang pasti penataan ruang kantor sekolah itu perlu direncanakan dengan hati-hati dan bijaksana. Kesalahan penataan ruang akan menimbulkan terjadinya pemborosan waktu, tenaga dan tempat. Perencanaan tata ruang kantor sekolah yang baik adalah perencanaan yang intregatif. Dengan perencanaan yang intregatif berarti penataan ruang dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan oleh bagian tata usaha sekolah, proses sekolah yang harus ditempuh, perlengkapan yang harus digunakan, bentuk dan luas ruang kantor sekolah yang telah dipersiapkan, dan kondisi fisik ruang yang dipersiapkan. Dalam kaitan dengan perencnaan tata ruang kantor sebagaimana dideskripsikan oleh The Liang Gie dalam Ibrahim (2004:45):
a. Sebagai langkah pertama dalam menata ruang kantor adalah membuat gambar denah kantor. Dalam rangka itu, bisa kiranya dipakai skala 1: 40. Artinya, untuk setiap meter lantai dapat dilukiskan diatas kertas menjadi 2,5 cm. Pada gambar denah tersebut harus dikemukakan pula keterangan-keterangan mengenai panjang dan lebar ruang yang bersangkutan, etrmasuk juga dengan pintu, jendela dan pilar-pilarnya.
b. Langkah berikutnya adalah mendeskripsikan semua aktifitas yang harus dikerjakan kantor. Semua aktifitas tersebut ditulis pada selembar atau dua lembar kertas. Setelah dideskripsikan, semua aktivitas itu dialanisis untuk mengetahui proses penyelesaian, urut-urutan, dan jumlah personil yang nantinya akan terlibat, serta perlengkapan yang akan digunakan.
c. Berdasarkan hasil kerja langkah pertama dan langkah kedua di atas, susunlah letak meja dan kursi personel, perabot, peralatan dan baha-bahan kantor. Dalam rangka itu, buatlah guntingan-guntingan gambar yang berwujud meja, kursi, perabt, dan peralatan kantor. Semua gambar tersebut harus dibuat dalam skala yang sama seperti gambar denah ruang di atas. Apabila dimungkinkan, sebaiknya gambar-gambar tersebut dibuat dari kertas yang berwarna dan agak tebal.
d. Akhirnya, merancang tata ruang kantor dengan cara menata guntingan-guntingan gambar perlengkapan itu di atas dena ruang. Guntingan-guntingan gambar yang telah dibuat sebelimnya itu ditatata sedemikian rupa hingga menjadi susunan yang baik. Pertama-tama, yang ditata adalah guntingan gambar meja dan kursi, lalu perlengkapan lainnya.

Dalam hubungannya dengan perencanaan tata ruang kantor itu ada beberapa hal yang patut mendapatkan perhatian setiap perencanaan tata ruang kantor, antara lain sebagai berikut :
a. Semua meja dan kursi petugas tata usaha sekolah hendaknnya disusun sedemikian rupa, sehingga semua petugas tata usaha menghadap ke arah yang sama. Dengan demikian, kemungkinan para petugas tata usaha untuk sering kali berbincang-bincang dapat dikurangi. Apabila dimungkinkan, sebaiknya di tengah ruangan disediakan jalan utama yang agak lebar.
b. Khusus meja dan kursi kepala bagian tata usaha kantor, bisa ditempatkan disatu tempat atau sudut ruang yang tidak dengan mudah dapat dilihat oleh para stafnya. Bahkan, bila dimungkinkan, meja dan kursi pimpinan itu ditempatkan di belakang para stafnya. Dengan penataan yang demikian itu dapat diperoleh dua keuntungan. Pertama, dengan penataan seperti itu kepala bagian tata usaha dapat dengan mudah melakukan pengawasan terhadap para aktivitas para stafnya. Kedua, dengan penataan seperti itu maka para stafnya tidak sering mengangkat kepala untuk melihat semua tamu pimpinannya.
c. Penempatan para staf hendaknya selalu memperhatikan tugaas-tugasnya. Personel yang tugasnya banyak berhubungan atau melayani bagian-bagian sekolah atau masyarakat yang hendaknya ditempatkan didekat pintu kantor. Personel yang tugasnya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan lembut, misalnya mencatat angka-angka kecil, membaut gambar-gambar yang halus, hendaknya ditempatkan pada sudut kantoryang banyak mendapatkan penerangan cahaya matahari. Personel tata usaha yang tugasnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mengandung resiko besar, sebaiknya ditempatkan di bagian ruangan yang jarang sekali dilalui oleh orang.
d. Perabot atau peralatan kantor sebaiknya ditempatkan pada suatu tempat yang dapat dengan mudah diambil, dibuka, digunakan dan dipelihara. Untuk itu, lemari dan peralatan lainnya diletakkan berdekatan dengan personel yang paling sering menggunakannya. Semua peralatan kantor yang menimbulkan suara rebut, misalnya, mesin stensil, sebaiknya diletakkan di tempat yang dekat jendela. Apabila bisa sebaiknya mesin-mesin yang dapat menimbulkan suara keraas itu ditempatkan di ruang tersendiri. Sedangkan perabot kantor yang sangat berat dapat diletakkan berdekatan (menempel) dengan tembok atau tiang. Dengan begitu dapat dijadikan penyangga bagi kekuatannya. Namun, semua itu tetap sangat tergantung besarnya perabot tersebut.

2. Penataan Ruang Perpustakaan Sekolah
Sebagaimana sarana pendidikan lainnya, semua sarana perpustakaan sekolah perlu ditata sedemikian rupa. Ada beberapa manfaat yang diperoleh melalui penataan perpustakaan sekolah yang baik, yaitu (1) dapat menciptakan suasana aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar, baik bagi murid, guru dan pengunjung lainnya; (2) mempermudah murid, guru, dan pengunjung lainnya dalam mencari bahan-bahan pustaka yang diinginkan; (3) petugas perpustakaan sekolah mudah memproses bahan-bahan pustaka, memberikan pelayanan, dan melakukan pengawasan; (4) bahan-bahan pustaka aman dari segala sesuatu yang dapat merusaknya; dan (5) memudahkan petugas perpustakaan sekolah dalam melakukan perawatan terhdap semua perlengkapan perpustakaan sekolah.
Dalam hubungannya dengan meja dan kursi baca atau belajar, agar murid-murid dapat belajar dengan nyaman, aman dan tenang, meja dan kursi belajar harus ditata dengan sebaik-baiknya.Penataan meja dan kursi belajar yang baik diintegrasikan dengan tempat atau rak-rak buku.
Perputakaan sekolah perlu juga menyediakan beberapa meja dan kursi belajar yang sengaja ditata untuk kepentingan belajar kelompok, diskusi kelompok dan mengerjakan tugas kelompok. Sebaiknya, meja dan kursi belajar kelompok ini ditata dan ditempatkan di ruang-ruang tersendiri, yaitu ruang belajar kelompok, agar tidak mengganggu orang lain yang sedang belajar secara perorangan. Ruang belajar kelompok bisa dipakai oleh 3-15 orang. Seandainya tidak ada ruang-ruang kecil untuk belajar kelompok, sebaikny penempatannya agak jauh dari tempat belajar perorangan atau dibatasi oleh rak-rak buku, sehingga suara kegaduhan yang mungkin timbul akibat diskusi tidak telalu keras atau tidak terlalu mengganggu orang lain yang sedang belajar secara perorangan. Meja dan kursi belajar untuk kelompok harus ditata dengan sedmikian rupa sehingga murid yang belajar kelompok kohesif dan produktif.
Setiap guru pustakawan atau petugas perpustakaan sekolah dasar memerlukan penerangan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Penerangan atau cahaya yang cukup tidak akan melelahkan mata, tidak mengurangi daya penglihatan dan tidak menyilaukan. Adanya penerangan yang cukup akan menambah efisien dalam bekerja, semua petugas akan bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa banyak mengalami kesalahan. Begitu pula para pengunjung perpustakaan sekolah, baik itu murid, guru, maupu pengunjung lainnya memerlukan penerangan yang cukup dalam membaca atau mempelajari buku-buku tertentu. Tata ruang perpustakaan yang baik sama sekali tidk menimbulkan ruang perpustakaan sekolah menjadi gelap atau terlalu terang sehingga menyilaukan mata.
Perpustakaan sekolah bisa menggunakan penerangn buatan manusia dan penerangan alami.Penerangan buatan manusia berupa sinar lampu.Apabila menggunakan sinar lampu, usahakan jangan bersifat langsung karena sinar yang demikian itu sangat terang dan menimbulkan bayangan yang sangat tajam. Sebaiknya sinarnya bersifat tidak langsung, dimana sinar tersebut diatur sedemikian rupa sehingga sinar lampu memancar ke arah langit-langit ruang perpustakaan sekolah dan oleh langit-langit dipantulkan kembali ke arah permukaan ruang perpustakaan sekolah.Penerangan alami berupa sinar matahari.Apabila menggunakan sinar matahari, meja dan kursi belajar harus diatur sedemikian rupa sehingga nantinya sinar matahari tiba di atas meja dari arah kiri.Meja-meja janganlah langsung berhadapan dengan sinar matahari.Lemari-lemari atau rak-rak buku usahakan jangan menutupi lubang-lubang tembok atau jendela yang biasanya dilalui sinar matahari, sebab apabila menutupi, sinar matahari tidak bisa masuk ke ruang perpustakaan sekolah sehingga menjadi gelap.
Sehubungan dengan penerangan atau cahaya, adalah warna yang dipakai pada didnding ruang perpustakaan sekolah. Perlu diperhatikan bahwa warna yang tepat akan mencegah kesilauan, sebab apabila warna itu diosoroti oleh sinar akan memantulkan kembali sinar tersebut sesuai dengan daya pantulnya. Oleh karena itu, warna-warna yang digunakan jangan telalu terang atau gelap.Gunakanlah warna-warna yang bersifat sejuk.
Akhirnya, yang juga perlu dipertimbangkan dalam penataan ruang adalah udara. Agar guru pustakawan atau petugas perpustakaan sekolah dapat mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, dan para pengunjung dapat belajar dengan tenang dan nyaman, perlu adanya udara yang segar, dalam hal ini udara tidak panas dan tidak lembab. Udara yang panas membuat orang menjadi ngantuk, cepat lelah, sedangkan udara yang lembab menekan perkembangan kreativitas petugas dan kreativitas berpikir.Selain itu, kelembaban udara dapat menimbulkan bermacam-macam jamur yang dapat merusak buku.Kelembaban udara biasanya terdapat di dalam ruang yang gelap dan udaranya tidak berganti.Cara yang dapat ditempuh adalah pemanfaatan alat-alat modern, seperti air conditioning(AC). Namun, apabila sekolah tidak mampu membelinya, cara yang lain dapat ditempuh adalah penataan ruang perputakaan sekolah sedemikian rupa sehingga lubang udara atau jendela tidak tertutup.

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

A. WAWANCARA
Wawancara menurut Sugiyono (2012:194) wawancara digunalkan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Selain itu Sutrisno dalam Sugiyono (2012:194) mengatakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunkana metode wawancara adalah subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tetang dirinya sendiri, bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek adalah benar dan dapat dipercaya, serta bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan peneliti.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si peneliti dengan objek penelitian. Dalam wawancara secara mendalam ini dilakukan oleh peneliti terhadap informan yaitu kepala sekolah, guru, beberapa siswa serta tata usaha. Wawancara ini bertujuan untuk memeperoleh informasi yang ada relevansinya dengan pokok persoalan penelitian yaitu sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School dan khususnya mengenai penataan saranan dan prasarana di sekolah tersebut. Data wawancara yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu tentang keadaan sarana dan prasarana, konsep dan sistem penataan sarana prasarana serta usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School.

B. OBSERVASI
Menurut Sutrisno dalam Sugiyono (2012:203) observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis serta dua yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Sugiyono menambahkan bahwa observasi merupakan teknik pengumpulan data yang memiliki cirri spesifik karena subyeknya tidak terbatas pada orang tetapi juga obyek-obyek alam yang lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa observasi atau pengamatan adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistimatik gejala-gejala yang diselidiki. Pada metode pegamatan ini, peneliti terjun langsung untuk mengamati secara langsung terhadap keadaan sarana dan prasarana, konsep dan sistem penataan sarana dan prasarana, serta usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School.

C. STUDI DKUMENTASI
Metode dokumentasi ini merupakan salah satu bentuk pengumpulan data yang paling mudah karena peneliti hanya mengamati benda mati dan apabila mengalami kekeliruan mudah untuk merevisinya karena sumber datanya tetap dan tidak berubah. Dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi foto kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School.


BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENGAMATAN

A. Lokasi
Surabaya Cambridge School terletak di Jalan Alam Sambi Tirta barat III/2 Blok C3/B-1 (Perumahan Alam Galaxy Lontar) Surabaya.

B. Sejarah
1. Sejarah Surabaya Cambridge School
Surabaya Cambridge School berdiri sejak tahun 2004 yang dimulai dengan berdirinya Pre Schoolyang terletak di daerah satelit. Sekitar tahun 2010 tempat lama yang berada di daerah satelit sudah tidak mampu menampung para siswa yang terus bertambah. Kemudian yayasan mendirikan gedung baru yang terletak di jalan Alam Sambi Tirta Barat III/2 Blok C3/B-1 tepatnya di perumahan Alam Galaxy Lontar sehingga pada tahun ajaran baru Juli 2011 gedung baru tersebut sudah bisa digunakan. Saat ini Surabaya Cambridge School sedang mempersiapkan pendirian Secondary School.

2. Profil Sekolah
Visi
“To shape the future through excellent teaching and virtues that will mold the whole being of the student.”
Membentuk masa depan melalui pengajaran yang sangat baik dan kebajikan yang akan membentuk seluruh keberadaan siswa.

Misi
“To provide consistently quality education and nurture every student with love and care that will strengthen faith in God, build up character and promote excellence in daily living.”
Untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas secara konsisten dan memelihara setiap siswa dengan cinta dan merawat yang akan memperkuat iman kepada Allah, membangun karakter dan menunjukkan keunggulan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pedoman Surabaya Cambridge School :
• Harapan yang tinggi yang ditetapkan untuk belajar siswa;
• Ada kepemimpinan yang kuat dan efektif;
• Guru memiliki pengetahuan menyeluruh dan up-to-date dari mata pelajaran mereka dan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana siswa belajar;
• Ada budaya sekolah yang positif dimana siswa memiliki rasa memiliki dan kebanggaan;
• Ada partisipasi yang tinggi dari orangtua dan keterlibatan masyarakat.

4. Fasilitas Surabaya Cambridge School
Fasilitas di Surabaya Cambridge School dilengkapi dengan ber-AC, fasilitas sekolah yang modern, maju infrastruktur TI, merangsang ruang kelas dan “Corners Learning”, serta fasilitas outdoor yang luas. Dengan fasilitas yang berstandar internasional dapat menyediakan lingkungan yang menyenangkan, merangsang kreativitas siswa dan aman untuk belajar, olah raga dan rekreasi. Keseimbangan Primer IQ dan EQ, Membangun Karakter, Kunjungan Perpustakaan.

5. Mata Pelajaran di Surabaya Cambridge School
Mata pelajaran yang ada di Surabaya Cambridge School antara lain :
Inggris, Cina, Matematika, Sains, Bahasa Indonesia, PKN, IPS, Musik, Seni dan PE.

6. Ekstrakurikuler di Surabaya Cambridge School
Ekstrakurikuler yang ada di Surabaya Cambridge School, diantaranya adalah :
Pendidikan kesehatan, Komputer , Math Club, Science Club, Glee Klub, Instrumental Club, Jurnalisme Club, Cina Club, Hip hop tari dan Wushu

C. Struktur Organisasi Sekolah
Struktur Organisai Surabaya Primary School

D. Keadaan Guru dan Staf Administrasi Sekolah
Total jumlah guru yang ada di Surabaya Cambridge School sekitar 16 guru, dengan rincian Pre School Teacher berjumlah 5 orang sedangkan Primary Teacher sekitar 11 orang. Untuk staf administrasi dari Surabaya Cambridge School berjumlah 4 orang.

E. Kondisi Siswa
Siswa dari Primary School berjumlah 82 siswa yang mana setiap kelas berisi ± 10 siswa.

F. Kondisi Sarana Prasarana
Surabaya Cambridge School mempunyai sarana prasana yang terdiri dari 7 kelas, ruang kepala sekolah dan kantor TU, ruang perpustakaan dan laboratorium komputer, ruang guru, ruang music, laboratorium IPA, kantin, toilet, mess, aula, pos satpam, dan ruang tunggu. Kelas yang teridi dari 7 ruang tersebut dibagi menjadi 2 kelas untuk P1, dan 1 kelas untuk P2-P6. Ruang kepala sekolah dan kantor TU yang bergabung menjadi satu, kantor TU yang ada di Surabaya Cambridge School ini gabung menjadi satu antara Pre School dan Primary School. Di Surabaya Cambridge School juga terdapat asrama yang diperuntukkan bagi guru-guru yang berasal dari luar negeri. Kemudian untuk perpustakaan dan laboratorium komputer berada satu ruangan.

G. Prestasi Sekolah
Selama ini Primary School belum pernah mengikuti kegiatan-kegiatan lomba yang ada di luar karena sekolah ini masih tergolong baru sehingga belum fokus untuk mengikuti lomba-lomba yang ada di luar sekolah, tetapi lebih berorientasi pada peningkatan kualitas proses pembelajaran secara internal.

BAB V
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENGAMATAN

A. Paparan Data
1. Penataan sarana prasarana di Surabaya Cambridge School
Surabaya Cambridge School memiliki 12 ruangan yang diantaranya adalah:
a. Pos satpam
Pos satpam Surabaya Cambridge School terletak di depan sekolah dekat pintu gerbang sekolah.

b. Ruang tunggu
Ruang tunggu terletak di depan pintu masuk. Ruang tunggu ini disediakan untuk para orang tua yang sedang menjemput atau mengantar anaknya serta digunakan para tamu jika sedang menunggu. Di ruang tunggu ini juga terdapat satpam yang menjaganya.

c. Ruang Kepala sekolah
Ruang kepala sekolah berada dalam satu ruang dengan ruang TU tetapi disediakan ruang tersendiri untuk kepala sekolah.

d. Ruang TU
Penataan ruang TU menggunakan sistem terbuka karena tidak ada sekat-sekat di dalamnya.

e. Ruang Guru
Penataan Ruang guru atau biasa disebut dengan kantor guru menggunakan sistem terbuka di mana tidak terdapat sekat-sekat yang memisahkan anatara guru yang satu dengan guru yang lain. Masing-masing guru menggunakan satu meja dan satu kursi. Tujuan dilakukannya penataan sistem terbuka adalah untuk memperlancar komunikasi antara guru yang satu dengan yang lain.

f. Ruang kelas sebanyak 7 ruang yang dibedakan menjadi Primary 1 sebanyak 2 kelas, Primary 2, Primary 3, Primary 4, Primary 5, dan Primary 6.
Untuk ruang kelas ditata sesuai dengan guru yang mengajar. Konsepnya adalah bagiaman caranya agar murid bisa belajar dengan nyaman sehingga tempat duduk diatur sedemikian rupa agar suasana kelas bisa kondusif. Selain itu ruang kelas juga ditempeli dengan hasil karya dari murid-murid. Penataan ruang kelas seperti itu bertujuan untuk semakin menumbuhkan kreatifitas murid, meningkatkan tanggungjawab murid, memberikan motivasi serta bisa mendukung terciptanya suasana kelas menjadi kondusif.

g. Science room/ laboratorium
Untuk laboratorium sistem penataannya sudah sangat bagus dimana sarana prasarana yang berhubungan dengan laboratorium sudah di tata dengan sangat rapi.

h. Art and music room/ Ruang Musik dan Kesenian
Ruang ini digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti hip hop tari dan instrumental club.

i. Perpustakaan
Untuk Perpustakaan tertata dengan sangata rapi dimana dibedakan antara buku masing-masing pelajaran. Perpustakaan di buat onsep full colour untuk mengimbangi jiwa anak-anak yang selalu ceria. Perpustakaan digabung dengan ruang computer.

j. Aula
Aula digunakan sebagai tempat pertemuan orang tua atau wali murid dan juga digunakan untuk kegiatan olahraga seperti senam.

k. Toilet
Toilet dibedakan untuk laki-laki dan perempuan. Toilet juga didesain dengan warna yang ceria mengikuti jiwa anak sehingga bisa mengimbangi psikolohis anak.

l. Mess
Mess digunakan untuk tempat tinggal guru-guru yang berasal dari luar negeri, misalnya dari Filipina.

m. Kantin
Terletak di lantai satu dan lantai dua, kantin yang berada di lantai satu menyediakan makanan ringan sedangkan kantin yang berada di lantai dua menyediakan makanan berat.

Berdasarkan hasil pengamatan, dokumentasi, serta wawancara dengan kepala Sekolah penataan sarana prasarana di Surabaya Cambridge School sudah tertata dengan sangat baik di mana luas ruangan disesuaikan dengan julah siswa. Perabot juga di tata dengan rapi sehingga membuat masing-masing ruang terasa nyaman. Ventilasi udara juga sudah bagus karena hampir di setiap ruang terdapat AC. Hanya di kantin, toilet, dan ruang tunggu yang tidak terdapat AC karena ventilasi sudah sangat baik di ruang-ruang tersebut.

2. Usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School.
Usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah sebagai leader dan manajer dalam sekolah adalah memberikan sosialisasi dan pemahaman terhadap sarana dan prasarana yang ada di Surabaya Cambridge School khusunya pada penataan sehingga tumbuh rasa memiliki dalam diri setiap warga sekolah.

B. Temuan Pengamatan
1. Penataan sarana prasarana di Surabaya Cambridge School
Dari penelitian ini dan berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka terdapat hal-hal yang dapat dijadikan pertimbangan untuk dibahas lebih lanjut yaitu:
a. Penataan ruang guru yang terkesan sedikit rumit karena jarak antara meja yang satu dengan meja yang lain sangat sedikit.
b. Penataan perpustakaan dengan laboratorium computer yang dijadikan satu. Lebih baik jika bisa dibedakan anatar perpustakaan dengan laboratorium komputer.
2. Usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan penataan sarana dan prasarana di Surabaya Cambridge School
Dari penelitian ini dan berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka terdapat hal-hal yang dapat dijadikan pertimbangan untuk dibahas lebih lanjut mengenai usaha usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan penataan sarana prasarana yaitu:
a. Kepala sekolah kurang dalam memberikan motivasi kepada setiap warga sekolah khususnya dalam hal penataan sehingga penataan hanay dilakukan oleh cleaning service.
b. Kepala sekolah kurang proaktif dalam mengajukan peningkatan sarana dan prasarana kepada yayasan karena kepala sekolah terlihat cenderung menerima semua keputusan dari yayasan khususnya terkait sarana dan prasarana.


BAB VI
PEMBAHASAN

A. Penataan Sarana Prasarana Di Surabaya Cambridge School
Di dalam teori mengatakan bahwa beberapa teknis yang berkenaan dengan bagaimana menata sarana dan prasarana pendidikan:
1. Tata Ruang dan Bangunan Sekolah
Dalam mengatur ruang yang dibangun bagi suatu lembaga pendidikan/sekolah, hendaknya dipertimbangkan hubungan antara satu ruang dengan ruang yang lainnya. Hubungan antara ruang-ruang yang dibutuhkan dengan pengaturan letaknya tergantung kepada kurikulum yang berlaku dan tentu saja ini akan memberikan pengaruh terhadap penyusunan jadwal pelajaran.
Jika dibandingkan dengan penataan sarana prasarana di Surabaya Cambridge School maka secara garis besar penataan ruang didasarkan atas asas keterjangkauan. Di lantai 1 terdiri dari ruang tunggu, ruang TU, ruang Kepala Sekolah. Di lantai 2 terdiri dari ruang kelas yaitu Primary 1 dua kelas, P2 sampai P6 masing-masing satu kelas, ruang guru, mess untuk furu luar negeri, laboratorium, kantin, dan toilet. Di lantai 3 terdapat perpustakaan yang digabung dengan ruang komputer.
Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, maka dapat dikatakan bahwa penataan ruangnya memperhatikan asas keterjangkauan sehingga menjadikan kinerja Sumber Daya manusia di Surabaya Cambridge School menjadi efektif. Contohnya, ruang guru diletakkan di lantai 2 karena semua kelas juga terletak di lantai 2.

3. Penataan Perabot Sekolah
Tata perabot sekolah mencakup pengaturan barang-barang yang dipergunakan oleh sekolah, sehingga menimbulkan kesan kontribusi yang baik pada kegiatan pendidikan. Dalam mengatur perabot sekolah hendaknya diperhatikan macam dan bentuk perabot itu sendiri. Apakah perabot tunggal atau ganda, individual atau klasikal, hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan perabot sekolah antara lain:
a. Perbandingan antara luas lantai dan ukuran perabot yang akan dipakai dalam ruangan tersebut
b. Kelonggaran jarak dan dinding kiri-kanan
c. Jarak satu perabot dengan perabot lainnya
d. Jarak deret perabot (meja-kursi) terdepan dengan papan tulis
e. Jarak deret perabot (meja-kursi) paling belakang dengan tembok batas
f. Arah menghadapnya perabot
g. Kesesuaian dan keseimbangan
h. Penataan perlengkapan Sekolah

1. Penataan ruang (ruang kelas)
Penataan sarana prasrana di Surabaya Cambridge School khususnya penataan perabot juga memperhatikan antara luas lantai dengan ukuran perabot karena pada masing-masing ruang terlihat penataan yang baik. jarak antara perabot yang satu dengan yang lain juga bagus terutama ruang kelas. Penataan ruang kelas di Surabaya Cambridge School sangat baik. tiap kelas memiliki konsep penataan yang berbeda karena setiap guru yang mengajar selalu memilih metode manajemen kelas yang disesuikan dengan tingkat perkembangan anak, cirri dan karakteristik pelajaran, serta kondisi dari ruang kelas.

2. Ruang guru
Di Surabaya Cambridge School terdapat satu ruang yang perlu adanya perbaikan penataan karena terlihat jarak antara perabot yang satu dengan perabot yang lain terlalu sedikit yaitu ruang guru.

3. Kantor guru
Penataan ruang kantor guru menggunakan sistem terbuka di mana tidak terdapat sekat-sekat didalamnya. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, penataan ruang kantor menggunakan sistem terbuka bertujuan untuk memperlancar komunikasi antara guru yang satu dengan guru yang lain sehingga kinerja akan lebih efektif dan hubungan antra teman sejawat juga terjalin harmonis.

4. Perpustakaan
Perpustakaan di Surabaya Cambridge School di desain secara lesehan dengan tujuan dapat memaksimalkan fungsi perpustakaan yaitu:
a. Fungsi edukatif
Di perpustakaan Surabaya Cambridge School disediakan buku-buku fiksi dan buku-buku non fiksi. Buku-buku fiksi terdiri dari beberapa buku cerita sedangkan buku nonfiksi terdiri dari buku-buku pelajaran. Penataannya juga rapi dibedakan anatra buku fiksi dan nonfiksi buku nonfiksi juga dibedakan lagi untuk tiap-tiap pelajaran. Dengan konsep tersebut, diharapkan murid-murid dapat belajar dperpustakaan baik secara mandiri maupun secara berkelompok.

b. Fungsi informatif
Perpustakaan digabung dengan ruang komputer sehingga murid-murid juga dapat mempergunakan komputer ketika di dalam perpustakaan. Dengan begitu murid-murid akan mendapatkan informasi yang lebih banyak.

c. Fungsi rekreatif
Dengan tersedianya bahan pustaka yang lengkap serta konsep perpustakaan yang didesain secara lesehan maka sangat menunjang murid-murid dalam belajar. Fungsi rekreatif perpustakaan pun dapat diwujudkan karena siswa dapat mengisi waktu luang dengan memperluas wawasan dengan membaca bahan pustaka di perpustakaan.

Penataan perpustakaan di Surabaya Cambridge School juga memperhatikan beberapa aspek yaitu:
a. Penataan perabot
Penataan perabot sangat disesuaikan dengan kondisi ruang. Rak-rak buku diletakkan menyandar di dinding. Terdapat televisi dan juga pajangan kata-kata sebagai perhatian siswa agar menjaga ketertiban di perpustakaan. Konsep perpustakan adalah lesehan tetpai di tengah-tengah juga terdapat meja dan kursi yang dapat dugunakan apabila murid-murid ingin belajra secara berkelompok. Untuk computer penataannya juga sangat baik dan aman karena kabel-kabel dan alat-alat yang berbhubungan dengan listrik juga terjaga keamanannya.

b. Penerangan
Penerangan di perpustakaan cukup baik karena cahaya dari luar bisa masuk ke dalam. Selain itu lampu yang dugunakan juga sesuai dengan luas ruangan. Warna cat yang digunakan cerah dan tidak silau jika mendapat pantulan cahaya, sehingga bisa disimpulkan bahwa penerangan di perpustakaan sudah sangat baik.

c. Udara
Karena terdapat ventilasi, maka udara yang masuk dan keluar dapat teratur dengan bai, di dalam perpustakaan juga terdapat AC sehingga ketika jendela ditutup udara di dalam juga terasa sejuk.

B. Usaha-Usaha Yang Dilakukan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Penataan Sarana Dan Prasarana Di Surabaya Cambridge School
Berdasarkan teori yang ada, kepala sekolah berperan sangat penting dalam melakukan peningkatan di bidang sarana prasarana khususnya dalam hal penataannya. Sebagai seorang leader, manajer yang memliki peran sebagai motivator maka kepala sekolah juga harus mampu memberikan motivasi kepada seluruh warga sekolah agar tercipta akuntabilitas baik kepala sekolah itu sendiri maupun untuk seluruh warga sekolah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Surabaya Cambridge School maka kepemimpinan kepala sekolah khususnya untuk usaha-usaha yang dilakukan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Penataan Sarana Dan Prasarana memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.
1. Kelebihannya antara lain:
a. Kepala sekolah membina hubungan baik dengan seluruh warga sekolah dan juga dengan orang tua/wali murid sehingga terjalin komunikasi yang baik untuk melakukan peningkatan kualitas sekolah khususnya di bidang sarana dan prasarana sekolah.
b. Memberikan sosialisasi kepada sluruh warga untuk mnciptakan kesadaran dalam melakukan peningkatan sarana dan prasarana sekolah.
2. Kelemahannya antara lain:
a. Kepala sekolah kurang dalam memberikan motivasi kepada setiap warga sekolah khususnya dalam hal penataan sehingga penataan hanay dilakukan oleh cleaning service.
b. Kepala sekolah kurang proaktif dalam mengajukan peningkatan sarana dan
prasarana kepada yayasan karena kepala sekolah terlihat cenderung menerima semua keputusan dari yayasan khususnya terkait sarana dan prasarana.


BAB VII
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penataan sarana dan prasarana yang ada di Surabaya Cambridge School secara umum sudah baik. Penataan ruang kantor atau ruang tata usaha menggunakan sistem terbuka begitu juga dengan ruang guru menggunakan sistem terbuka. Alasannya untuk memperlacar komunikasi antar staf atau guru yang ada di Surabaya Cambridge School, sehingga penataan sarana dan prasarana pada ruang kantor atau ruang tata usaha dapat membantu dalam efektifitas dan efisiensi pada saat bekerja.

B. SARAN
 Untuk ruang guru sebaiknya jarak antara perabot yang satu dengan yang lain diberikan jarak yang lebar agar terlihat rapi, sehingga tata ruang pada ruang guru dapat terlihat rapi.
 Hubungan antar kepala sekolah dengan warga sekolah dalam melakukan penataan sarana dan prasarana yang ada di Surabaya Cambridge School harus lebih ditingkatkan.
 Peningkatan kesigapan dan kesadaran kepala sekolah terhadap kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran pada Surabaya Cambridge School.
 Sebaiknya penempatan ruang komputer dipisahkan dengan ruang perpustakaan, karena penataan yang demikian dapat menghambat keefektifan kegiatan yang berlangsung pada ruang perpustakaan, begitu juga sebaliknya akan mengganggu kegiatan pembelajaran di ruang computer pada saat pembelajaran berlangsung.

DAFTAR RUJUKAN

Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta:Bumiaksara.

Dian.2008.Pengelolaan sarana Prasarana Pendidikan, (online), (http://dian75.wordpress.com/2010/08/05/arti-dan-ruang-lingkup-pengelolaan-sarana-dan-prasarana-pendidikan/ diakses 20 Oktober 2012)


LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Transkrip Wawancara
Interviewer : “selamat siang Miss”
Informan : “Siang.”
Interviewer : “mohon maaf bu, kami mengganggu. Sebelumnya kami
mengucapkan terima kasih karena kami sudah diberi kesempatan
untuk melakukan observasi di sekolah Ibu.”
Informan : “iya sama2.”
Interviewer : “iya, awal kami menginjakkan sekolah di sini, kami merasa takjub
karena sarana dan prasarana di sini sudah sangat baik. tapi
sebelum masuk ke sarana prasarana, kami ingin mengetahui
sejarah berdirinya sekolah ini sampai perjalannya sekarang Miss.”
Informan : “Surabaya Cambridge School berdiri sejak tahun 2004 yang
dimulai dengan berdirinya Pre Schoolyang terletak di daerah
satelit. Sekitar tahun 2010 tempat lama yang berada di daerah
satelit sudah tidak mampu menampung para siswa yang terus
bertambah. Kemudian yayasan mendirikan gedung baru yang
terletak di jalan Alam Sambi Tirta Barat III/2 Blok C3/B-1
tepatnya di perumahan Alam Galaxy Lontar sehingga pada tahun
ajaran baru Juli 2011 gedung baru tersebut sudah bisa digunakan.
Saat ini Surabaya Cambridge School sedang mempersiapkan
pendirian Secondary School.”
Interviewer : “apakah kami boleh melihat struktur organisasi sekolah ini Bu?”
Informan : “oh iya silahkan, akan kami berikan hardcopynya jika mau.”
Interviewer : “iya terima kasih bu. Oh ya di sini berapa jumlah gurunya bu?”
Informan : “di sini guru yang mengajar di primary ada 16 orang.”
Interviewer : “untuk staf administrasinya jumlahnya berapa bu?”
Informan :”staf administrasinya ada 4 orang”
Interviewer : “untuk muridnya sendiri jumlahnya berapa bu? Untuk masing
masing kelas berapa jumlah siswanya?”
Informan :”untuk muridnya berjumlah 82 murid. Masing-masing kelas antara
10 sampai 12 murid. Tapi saya mengkuota maksimal 20 murid”.
Interviewer :”prestasi apa saja yang telah di raih sekolah dalam bidang
akademik?
Informan :”untuk sementara ini belum ada prestasi yang diraih karena belum pernah
mengikuti lomba diluar. Yang sudah pernah mengikuti itu yang tingkat TK.”
Interviewer : “di bidang non akademik prestasi yang telah di raih sekolah apa saja bu?”
Informan :”dibidang non akademik pun belum ada prestasi yang diraih”.
Interviewer : “untuk ruangan yang ada di sekolah ini terdiri dari apa saja bu?”
Informan :” Surabaya Cambridge School mempunyai sarana prasana yang terdiri dari
7 Kelas yaitu Primary 1 terdiri dari 2 kelas, Primary 2 sampai Primary 6
masing-masing satu kelas, ruang kepala sekolah dan kantor TU, ruang
perpustakaan dan laboratorium komputer, ruang guru, ruang music,
laboratorium IPA, kantin,
toilet, mess, aula, pos satpam, dan ruang tunggu.”
Interviewer :”apakah ada denah sekolah? Jika ada apakaah kami boleh melihatnya?”
Informan :”untuk denah maaf belum ada, kami belum membuatnya”
Interviewer : “:bagaimana system penataan sarana dan prasarana di sekolah ini bu?
Informan :”penataan sarana dan prasarana di sekolah ini didasarkan pada asas
keterjangkauan dimana lantai 1 terdiri dariruang kepala sekolah yang
digabung dengan ruang TU, ruang tunggu, serta kelas untuk TK. Lantai
2 terdiri dari ruang kelas untuk SD atau primary, toilet, kantin, mess, dan
laboratorium. Untuk mlantai 3 terdiri dari perpustakaan yang digabung
dengan ruang computer, dan terdapat juga ruang seni dan music. Untuk
lantai 4 terdapat ruang keuangan. Untuk konsep penataan ruang kelas
disesusaikan dengan metode pengajaran yang digunakan oleh guru
sehingga setiap kelas memiliki konsep penataan yang berbeda.”
Interviewer : “untuk tata ruang kantor menggunakan system terbuka atau tertutup?”
Informan : “untuk tata ruang kantor menggunakan sistem terbuka.
Interviewer : “apa alasan Ibu menggunakan system tata ruang seperti itu?”
Informan : “Tujuannya adalah untuk memperlancar komunikasi antara guru yang satu
Dengan guru yang lain.”
Interviewer : “usaha-usaha apa sajakah yang Ibu lakukan untuk meningkatkan sarana
Dan prasarana terutama dalam penataannya?”
Informan :”sejauh ini yang saya lakukan hanyalah sosialisasi untuk melakukan
Peningkatan di bidang sarana dan prasrana. Selebihnya semuanya diurus
oleh yayasan dan biasanya ditata oleh cleaning service.”
Interviewer :” iya Miss, kami rasa cukup sekian, terima kasih banyak atas informasi
yang telah diberikan. Terima kasih juga atas kesempatan yang Miss
berikan sehingga kami bisa melakukan observasi, wawancara serta studi
dokumentasi mengenai sarana dan prasarana khususnya dalam hal
penataan”.
Informan :”iya sama-sama.”
Interviewer :” kami pamit Miss, selamat siang.”
Informan :”siang”.


2. Data-data Dokumentasi Sekolah

Gambar 1
Gedung Surabaya Cambridge School

Gambar 2
Sturktur Organisasi Primary of Surabaya Cambridge School

Gambar 3
Sertifikat registrasi di Cambridge International School

Gambar 4
Sertifikat Cambridge Primary School

Gambar 5
Ruang Tata Usaha

Gambar 6
Ruang Guru 

Gambar 7
Ruang Kelas Primary 1 (tampak luar)

Gambar 8
Ruang Kelas Primary 1 (tampak dalam)

Gambar 9
Ruang Kelas Primary 2 (tampak luar)

Gambar 10
Ruang Kelas Primary 2 (tampak dalam)

Gambar 11
Mading Kelas Primary 2

Gambar 12
Mading Kelas Primary 3

Gambar 13
Ruang kelas Primary 3 (tampak luar)

Gambar 14
Ruang kelas Primary 3 (tampak dalam)

Gambar 15
Ruang kelas Primary 4 (tampak luar)

Gambar 16
Ruang kelas Primary 5 (tampak dalam)

Gambar 17
Ruang kelas Primary 6 (tampak dalam)

Gambar 18
Laboratorium (bagian depan)

Gambar 19
Laboratorium (tampak samping)

Gambar 20
Laboratorium (bagian tengah)

Gambar 21
Ruang Seni dan musik

Gambar 22
Aula

Gambar 23
Perpustakaan (tampak samping kiri)

Gambar 24
Perpustakaan (tampak samping kanan)

Gambar 25
Ruang Komputer (tampak samping kanan)

Gambar 26
Ruang Komputer (bagian tengah)

Gambar 27
Kantin (bagian tengah)

Gambar 28
Kantin (tampak belakang)

Gambar 29
Tempat tissue

Gambar 30
Wastafel

Gambar 31
Toilet (tampak depan)

Gambar 32
Toilet

Gambar 33
Ruang Tunggu

Gambar 34
Tangga

Gambar 365
Mess

Gambar 36
Lorong

Gambar 37
Observer melakukan interview

Gambar 38
Observer melakukan interview

Posted in Manajemen Sarana Prasarana | Leave a comment

Kurikulum 1994

PEMBAHASAN

A. Definisi Kurikulum
Banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku pelajaran akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pendidikan, persoalan materi pelajaran serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal itu.
Istilah kurikulum pertama kali digunakan pada dunia olahraga pada zaman yunani kuno, yang berasal dari kata curir dan curere. Pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh pelari.
Print memandang sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun. Dari penelusuran konsep, pada dasarnya kurikulum mempunyai 3 dimensi pengertian yaitu, kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.
Dari berbagai pengertian kurikulum, dapat disimpulkan bahwa “Kurikulum adalah suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu tujuan.

B. Konsep Dasar Kurikulum
Kurikulum ini merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya dengan dasar kurikulum 1984 pada kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kegiatan belajar cenderung didalam kelas, mengejar target berupa materi yang harus dikuasai, berorientasi kognitif. Yang dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menurut UU tersebut, pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berbudi luhur, memiliki keterampilan dan pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Jika ditelaah dengan cermat, dapat dipahami bahwa kurikulum 1994 yang menekankan aspek kebermaknaan merupakan perbaikan atau penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang menggunakan model pembelajaran CBSA. Inti pokok persamaan yang dapat dilihat adalah bahwa :
1. Siswa mendapat subyek yang berperan aktif dalam melakukan tindak pembelajaran
2. Tindak pembelajaran lebih menggunakan proses dari pada produk
3. Kesalahan yang dilakukan siswa dalam memahami dan atau melakukan proses pembelajaran tidak dianggap sebagai kegagalan namun dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Perbedaannya adalah kurikulum 1994 menekankan unsur atau asaz kebermaknaan sedangkan CBSA menekankan keaktifan siswa. Pada kurikulum 1994, pendidikan dasar diwajibkan menjadi 9 tahun (SD dan SMP). Berdasarkan strukturnya, kurikulum 1994 berusaha menyatuka kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1994 dengan tujuan pendekatan proses.

C. Karakteristik Kurikulum
Karakteristik kurikulum 1994 yang disebut juga kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA) adalah sebagai berikut :
1. Keterlibatan intelektual, emosional siswa dalam proses belajar mengajar.
2. Terjadi asimilasi dan akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan serta pengalaman langsung terhadap balikan (feedback) dalam pembentukan keterampilan.
3. Penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam bentuk sikap.

D. Ciri-Ciri Kurikulum 1994
Terdapat cirri-ciri yang menonjol pada kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut :
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan system caturwulan.
2. Pembelajaran disekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat.
3. Bersifat populis, yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa diseluruh Indonesia.
4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik dan sosial.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikr siswa.
6. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
7. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.

E. Tujuan Kurikulum
Tujuan umum yaitu mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, jujur, cermat, efektif dan efisien. Salah satu kegiatan yang memungkinkan agar tujuan tersebut bias tercapai adalh siswa diharapkan mau mengikuti ajang kompetisi dalam bidang matematika, baik di dalam kota maupun di luar kota, bahkan memungkinkan siswa diikutsertakan dalam ajang kompetisi di luar negeri.

F. Kelemahan Kurikulum 1994
• Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi setiap mata pelajaran.
• Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurarang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

KESIMPULAN
Istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno. Curir dalam bahasa Yunani Kuno berarti “pelari” dan Curere artinya “tempat berpacu”. Kemudian diartikan “jarak yang harus ditempuh” oleh pelari. Kurikulum dalam dunia pendidikan dianalogkan sebagai arena tempat berlari peserta didik untuk mencapai finis berupa ijazah. Secara umu kurikulum berarti Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
Filosofis kurikulum 1994 yaitu struktur keilmuan yang menghasilkan mata pelajaran dengan tujuan agar siswa menguasai materi yang tercantum dalam GBPP. Pada kurikulum 1994 ini substansi materi semuanya ditentukan oleh pemerintah. Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar dengan ceramah. Tetapi pada kurikulum ini siswa belum dituntut untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar sehingga guru dipandang sebagai sumber belajar utama bukan sebagai fasilitator.

DAFTAR PUSTAKA
http://trimariya.wordpress.com/2008/12/23/perbandingan-kurikulum-1994-dan-kurikulum-kbkserta-implikasi-dalam-pembelajaran-di-kelas/
Sugiono, H.,2010,Pengantar Ilmu Pendidikan, Suraabaya,CV. Bintang.

Posted in Manajemen Kurikulum | Leave a comment